writing down with the coffee
sudah terlalu lama aku biarkan sesuatu ini tidak terisi kata.
seharusnya sekarang minggu ujian. ah ya.
memang sedang minggu ujian.
tapi aku sama sekali tidak bisa fokus. terlalu banyak distraksi.
dan anehnya, kali ini, aku yang mengiyakan secara sadar akan kedatangan distraksi itu.
oh ya. hari sabtu kemarin tahlilan 40 hari eyang.
dan ya, kembali menangis. kembali merasa perihnya merindu.
hey, old man. how’s there?
have you met granny? say i love her, and you too, of course.
i miss you.
we always do.
dan distraksi terakhir yang akan selalu kuingat adalah pesanmu yang selalu bilang, “belajar yang bener, ta. sekolah yang baik.”
baiklah. harusnya ini bukan distraksi.
dan aku kembali meracau.
ya ampun. betapa aku rindu menarikan pikiran di atas selembar putih.
bersama secangkir kopi dan alunan kata yang biasanya mengalir.
tapi kini waktu seakan menjauh. aku tak punya cukup waktu untuk sekedar menghirup aroma selembar putih ini.
waktuku habis. untuk hal yang bahkan tidak aku ketahui.
sibuk kata mereka.
bagiku…. tersesat.
kamu tau? seperti orang tersesat yang tak bisa berhenti melangkah hanya untuk mencari jalan keluar. tapi tak ketemu.
suaranya terlalu bising,aku tak bisa tenang berpikir.
berlari tak tentu arah, seperti…terombang-ambing.
atau mungkin, mencoba berlari di air yang bergelombang.
disaat kamu tau….kamu tak pandai berenang.
akhirnya semua perlahan kembali.
seperti butiran pasir yang terlalu lama diam di lautan, lalu kembali ke landainya semula.
pulang…
bahagia itu sederhana.
sesederhana….
kita, dengan kedai kopi kecil, bicara dalam diam.
bicara dengan bahasa kita.
dan kembali pergi.
aku suka masa itu. saat kita seakan mencuri waktu dan diam-diam membekukannya dalam diam.
sepi. tenang. nyaman.
seakan mempermainkan waktu dalam adukan kopi yang berbaur dengan krim putih diatasnya.
seakan…pulang kembali ke rumah.
bersama.
*untuk 2 cangkir kopi, satu batang rokok, dan tawa dalam diam yang selalu dirindukan
-bahagia itu sederhana :)
halo, nona.
butuh informasi mengenai sekolah kepribadian?
oh tenang saja, dengan senang hati akan saya carikan. tidak mengganggu, sungguh.
yang menggangu justru kalau Anda tidak secepatnya mengikuti kelas itu.
terima kasih :)
Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah saja belukar
Tapi belukar terbaik yang tumbuh di tepian danau
Kalau kau tak sanggup menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan setapak
Tapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air
Tidak semua menjadi Kapten
Tentu harus ada awak kapalnya
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendah nilai dirimu
Jadilah dirimu sebaik baik dirimu sendiri
(via reacaraksa)
even run doesn’t help. well it never help.
even people turned away. well, that’s what they do.
even life seems far away. well, maybe i’m dying.
even tough seems impossible.
and even i, couldn’t find me more.
